Banjir Aceh dan Sumatera: Ketika Air Menjadi Saksi Kejahatan Politik
Selama bertahun-tahun, Sumatera diperlakukan bukan sebagai wilayah kehidupan, melainkan sebagai ladang eksploitasi. Hutan dibabat atas nama investasi, sungai dikeruk demi pertumbuhan ekonomi, dan izin lingkungan dikeluarkan dengan mudah oleh elite politik yang lebih setia pada kepentingan korporasi daripada mandat rakyat. Dalam logika politik hari ini, banjir dianggap sebagai “risiko pembangunan”, seolah kehancuran ekologis adalah harga wajar demi stabilitas ekonomi dan citra keberhasilan pemerintah.
Aceh, dengan status kekhususannya, seharusnya menjadi contoh pengelolaan sumber daya yang berkeadilan. Namun kenyataannya, politik ekstraktif tetap beroperasi dengan wajah baru: dibungkus regulasi, dilegitimasi oleh birokrasi, dan diamankan oleh kekuasaan. Ketika banjir datang, negara hadir bukan sebagai pelindung, tetapi sekadar pemadam krisis membagi bantuan sementara tanpa menyentuh aktor-aktor politik yang bertanggung jawab atas kerusakan struktural.
Masalah banjir di Sumatera adalah cermin dari politik nasional yang anti-ekologi. Pembangunan dikejar untuk kepentingan elektoral jangka pendek, bukan untuk keselamatan generasi mendatang. Elite berlomba memamerkan proyek dan pertumbuhan, sementara daya dukung lingkungan runtuh perlahan. Lebih parah lagi, kritik sering dibungkam dengan narasi “anti-pembangunan”, seakan memperjuangkan lingkungan adalah tindakan melawan negara.
Dalam situasi ini, banjir bukan lagi bencana alam, melainkan bencana politik. Ia lahir dari kebijakan yang korup secara moral, dari hukum yang tumpul ke atas, dan dari demokrasi yang gagal mengontrol kekuasaan. Rakyat dipaksa menanggung akibat dari keputusan yang tidak pernah mereka buat, sementara para pengambil kebijakan tetap aman di balik meja kekuasaan.
Banjir Aceh dan Sumatera seharusnya menjadi alarm perlawanan. Selama politik Indonesia masih tunduk pada kepentingan modal dan mengabaikan keadilan ekologis, maka air akan terus naik, korban akan terus bertambah, dan bencana akan terus dinormalisasi.
Sudah saatnya banjir tidak lagi dibaca sebagai takdir, melainkan sebagai kejahatan politik. Air yang menggenang hari ini adalah peringatan keras: tanpa perlawanan terhadap oligarki dan rezim pembangunan yang rakus, rakyat akan terus hidup di bawah bayang-bayang bencana yang diciptakan oleh kekuasaan itu sendiri.

Comments
Post a Comment