Banjir Aceh dan Sumatera: Ketika Air Menjadi Saksi Kejahatan Politik
Banjir yang kembali menenggelamkan Aceh dan berbagai wilayah di Sumatera bukan sekadar akibat hujan deras. Air yang meluap hari ini adalah saksi bisu dari kejahatan politik yang telah lama berlangsung: persekongkolan antara kekuasaan dan kepentingan modal yang mengorbankan lingkungan dan rakyat. Setiap rumah yang terendam, setiap sawah yang rusak, dan setiap warga yang mengungsi adalah bukti nyata bahwa negara telah gagal melindungi ruang hidup warganya. Selama bertahun-tahun, Sumatera diperlakukan bukan sebagai wilayah kehidupan, melainkan sebagai ladang eksploitasi. Hutan dibabat atas nama investasi, sungai dikeruk demi pertumbuhan ekonomi, dan izin lingkungan dikeluarkan dengan mudah oleh elite politik yang lebih setia pada kepentingan korporasi daripada mandat rakyat. Dalam logika politik hari ini, banjir dianggap sebagai “risiko pembangunan”, seolah kehancuran ekologis adalah harga wajar demi stabilitas ekonomi dan citra keberhasilan pemerintah. Aceh, dengan status kekhususannya,...